Selasa, 06 April 2010

SAYA BANGGA DAN BAHAGIA ISLAM AGAMAKU


Sampai detik ini saya masih tak henti-hentinya bersyukur karena terlahir dari keluarga Islam. Kedua orang tua membekali saya tidak hanya ilmu duniawi, tetapi juga ilmu agama. Sejak kecil saya sudah dileskan ngaji kepada seorang ustadz –dulu kita biasa menyebutnya Guru Ngaji. Paling tidak seminggu sekali guru ngaji ini datang ke rumah untuk mengajari saya membaca Al-Qur’an. Seperti juga anak-anak kecil lainnya, saya juga sering ogah-ogahan ketika tiba waktunya ngaji. Biarpun begitu, pelajaran mengaji privat ini toh bisa berlangsung sampai bertahun-tahun dengan lancar.


Teman-teman di lingkungan tempat tinggal saya terdiri dari berbagai macam suku dan agama. Mayoritas beragama Islam. Biarpun begitu, hubungan saya dengan teman-teman yang berbeda agama baik-baik saja. Di sekolah kami terbiasa pula dengan berbagai perbedaan. Ketika kami sedang mengikuti pelajaran agama Islam, teman-teman yang beragama selain Islam mendapatkan pelajaran agamanya di kelas yang berbeda. Selama menempuh pendidikan mulai SD sampai Perguruan Tinggi, tidak pernah terjadi sekalipun gesekan diantara kami yang muslim dan non-muslim. Semuanya saling hormat menghormati. Toleransi. Padahal waktu itu kami belum mengenal istilah pluralisme.


Waktu itu, saya sadar, agama saya dan agama mereka yang non-muslim berbeda. Merekapun juga tahu, konsep beragama mereka dengan konsep beragama saya berbeda. Saya juga tahu, Tuhan saya dengan Tuhan mereka berbeda, karena pengetahuan tentang itu memang diajarkan oleh guru agama saya. Ketika masih di bangku SD dan SMP, pengetahuan tentang Tuhan-Tuhan agama lain juga diberikan melalui pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pncasila).. Jadi sedikit banyak, kami bisa saling mengetahui konsep keTuhanan masing-masing agama. Namun semuanya itu, tidak membuat kami terpengaruh atau saling mempengaruhi, apalagi mencela agama yang dianut teman-teman kami.


Saat mengikuti pelajaran agama Islam di kelas, kami dengan tegas akan mengatakan agama kamilah - Islam - yang paling benar dan satu-satunya yang bakal diterima oleh TUhan. Kami bahkan bisa memberikan alasan kenapa agama kami yang paling benar dan kenapa agama lain tidak benar. Namun ketika kami sudah berbaur kembali di luar kelas dengan teman-teman non-muslim, kami tidak akan mempersoalkan dan memperbincangkan perbedaan itu dengan mereka. Mereka adalah teman-teman kami. Agamaku adalah agamaku, agamamu adalah agamamu sendiri.


Makanya saya sangat heran ketika beberapa tahun belakangan ini beberapa tokoh Islam gencar mewacanakan pluralisme. Mereka dengan gagah berani menyatakan bahwa semua agama sama. Ada banyak jalan menuju TUhan. Semua agama mempunyai kelebihan dan juga kelemahannya masing-masing. Kita tidak boleh mengatakan agama kita paling benar dan agama lain salah. Dengan demikian akan terjadi kehidupan yang harmonis antar pemeluk agama. Tidak akan terjadi pertikaian yang mengatasnamakan agama yang disebabkan oleh saling klaim kebenaran agama masing-masing. Mau beragama Islam, Kristen, Hindhu, Budha maupun agama lain, semua sama baiknya. Pokoknya semua agama benar.


Saya saja yang tidak pernah belajar agama di pesantren bisa merasakan ini sebagai suatu keganjilan dan keanehan yang luar biasa. Tidak masuk di akal. Bagaimana bisa semua agama dianggap sama benarnya ? Herannya, yang mengatakan seperti itu adalah orang-orang yang pernah belajar di pesantren, sekolah agama, perguruan tinggi agama Islam bahkan menjadi pengajar di sana. Sampai detik ini, saya yang tidak mendalami khusus bidang agama Islam alias orang awam, merasa bahwa agama Islam yg saya anut sudah sangat sempurna. Tidak pernah terjadi gesekan diantara kami. Bahkan masalah saling toleransi sudah termuat jelas di Surat Al-Kafirun : "Bagimu agamamu dan untukku agamaku".


Sampai detik ini, saya dan juga banyak diantara ummat Islam yang lain, belum pernah sedikitpun menemukan kelemahan dan kesalahan dari ajaran yang diwahyukan Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Muhammad Sholallu’alaihi wassalam. Yang justru sering saya temui, tidak sedikit ummat Islam yang belum menjalankan aturan agamanya secara benar. Ajaran yang sudah demikian baik ini belum diimplementasikan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Masih banyak yang justru memisahkan antara kehidupan duniawi dengan nilai-nilai agama.


Lalu, buat apa mereka yang katanya orang-orang pintar dan berpendidikan tinggi ini harus mengobok’obok dan mencari-cari kesalahan ajaran yang sudah sangat sempurna ini ? Bukankah seharusnya yang harus diperbaiki adalah ummat Islamnya, bukan ajaran Islamnya ?


Untuk itulah, blog ini saya buat. Saya bukan seorang ustadz, bukan pula seorang pakar agama Islam. Saya orang biasa. Di KTP saya tertulis agama saya Islam. Sayapun juga masih sering melanggar beberapa aturanNya. Jauh dari sempurna. Blog ini hanyalah uneg-uneg hati saya yang prihatin dengan semakin banyaknya ummat Islam yang ragu dengan agamanya sendiri.


Saya hanya ingin anda dan saya bisa dengan mantap mengatakan : “Saya bangga dan bahagia menjadi seorang muslim, karena ajaran agama inilah yang akan terus menuntun dan menjaga langkah kita agar bisa meraih kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat kelak.” Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar